Makassar, datang dan lihatlah sendiri
30 November 2011 at 2:13 pm 2 komentar
Apa yang pertama kali terlintas ketika mendengar 2 kata, mahasiswa Makassar? Demo, anarkis, tawuran, mungkin itu yang akan terucap.
Saya tidak tahu dengan pasti sejak kapan pemberitaan tentang tawuran di Makassar (terutama mahasiswa) mulai sering menghiasi layar kaca dan media cetak. Yang saya ingat hanyalah setiap kali kericuhan terjadi di Makassar, setiap kali televisi menayangkan mahasiswa yang sepertinya begitu menikmati aksi lempar batu, hampir bisa dipastikan saya yang kala itu sedang menempuh pendidikan di kota Jogja harus menghadapi pertanyaan klasik dari orang – orang yang mengenalku. Saya bahkan masih ingat dengan jelas saat akan asistensi tugas akhir, dosen pembimbingku menghabiskan sebagian besar waktu untuk membahas tentang aksi anarkis mahasiswa Makassar yang begitu fenomenal.
“Kenapa mahasiswa Makassar seperti itu?”
“Memangnya dibiarkan kalau tawuran?”
“Orang Makassar seperti itu? Semuanya harus diselesaikan dengan adu otot?”
Saya gerah! Kadang rasa malu menghampiri, memaki muka – muka yang terlihat di televisi. Dan tidak jarang pernyataan saya dibantah oleh mereka yang bertanya. “Kamu kan tidak pernah lama di Makassar, mungkin saja keadaannya tidak sama seperti dulu, mungkin saja pola masyarakat sana sudah berubah menjadi hobi berkelahi, media kan tidak mungkin memberitakan kalau tidak ada kejadian”. Demikian bantahan yang kadang saya dapatkan ketika berkata “ah itu hanya oknum saja, media yang terlalu berlebihan”. Atau kadang bahkan saya hanya mampu cengar cengir tidak jelas. Enggan menjawab.
Hingga akhirnya saya lulus kuliah dan kembali ke Makassar. Ini tahun ke-4 saya di kota ini. Dan beberapa tahun terakhir saya banyak bertemu mahasiswa dari berbagai universitas di Makassar dan juga orang – orang yang begitu mencintai kota ini. Perlahan mulai mengenal mereka dengan cukup baik, mengetahui bahwa mereka juga gerah dengan aksi tawuran yang dilakukan oleh segelintir orang yang tidak bertanggung jawab. Akhirnya, pernyataan bahwa media yang terlalu berlebihan memberitakan, bahwa yang membuat kericuhan hanyalah oknum memang benar adanya. Saya tidak mengada – ngada ataupun sekadar membela kota kelahiranku, hanya saja benar kota ini tidaklah seburuk yang diberitakan media.
Dan mungkin karena begitu gerah dengan pemberitaan yang ada, Makassar di beberapa tahun terakhir ini akhirnya mulai menunjukkan sifat yang sebenarnya. Berbagai komunitas mulai bermunculan. Kegiatan – kegiatan positif yang tadinya tertutupi mulai digaungkan. Semua orang mulai saling berpegangan tangan, saling bahu membahu, saling mendukung menunjukkan sisi lain, sisi baik kota ini. Semuanya demi Makassar.
Apa yang terlihat di media tentang perkelahian, demo ricuh memang benar. Tapi itu hanyalah riak yang kadang juga terjadi di kota lain, hanyalah sekelompok anak muda yang sedang mencari jati dirinya.
Makassar tidaklah sekasar seperti yang dipikirkan orang – orang diluar sana. Saya menyaksikannya di 4 tahun terakhir ini. Tidak percaya? Silahkan datang dan lihatlah sendiri. Silahkan menjadi saksi keramahan kota kami. Dan jangan lupa juga mengunjungi pulau – pulau eksotik, serta menikmati suguhan kuliner super enak yang hanya ada di Makassar.
Nb : baca tulisan http://nanie.me/makassar-tidak-kasar.html untuk tahu beberapa komunitas – komunitas yang bergerak memberikan energi positif untuk Makassar
Entry filed under: Uncategorized. Tags: Makassar Tidak Kasar.
2 Komentar Add your own
Tinggalkan Balasan
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed






1.
hima-rain | 30 Desember 2011 pukul 7:21 am
SETUJUUUUUUUUUUUU….HIDUP MAKASSAR
2.
payabo | 19 Februari 2012 pukul 1:10 am
Bukti Makassar tidak kasar: “nonton berita kriminal”… Jarang ada orang Makassar jado objek berita… haha