dunia lain di kostku
29 Mei 2011 at 10:38 pm 10 komentar
Sudah cukup lama sebenarnya ingin menulis ini, tapi karena malas dan mati kata akhirnya tulisan tentang ini mengendap di pikiran.
** sebelumnya, mau sungkem ke ibu dan bapak kost, saya hanya sekadar ingin bercerita saja
**
Cita Haida. Demikian nama sebuah kost yang terletak disekitar daerah Tambak Bayan, Jogja. Cita Haida yang biasa disingkat CH adalah kost kedua dan sekaligus terakhirku di kota Jogja. Saya pindah ke CH pada pertengahan 2002.

CH merupakan bangunan bertingkat 3 yang memiliki 18 kamar. Lantai 1 sebanyak 6 kamar, ditambah bangunan rumah sang pemilik kost. Lantai 2 berisi 12 kamar dan lantai 3 adalah tempat mencuci – menjemur. Jika melihat kamar yang sedemikian banyaknya itu mungkin akan berpikir bahwa kost CH sumpek dan sebagainya. Tapi tidaklah demikian. Bangunan kost yang cukup luas membuat kamar yang masing – masing berukuran 3×3 m itu terasa lapang. CH bahkan memiliki halaman parkir yang cukup luas didalamnya, yang bisa menampung sekitar belasan sepeda motor.
Saya menemukan CH ketika bersama dengan teman – teman di kost lama berputar – putar mencari kost baru, dikarenakan kost lama menaikkan harga kamar yang cukup fantastis. Dan ketika melihat CH, berbincang – bincang dengan ibu – bapak kost, kami langsung jatuh cinta dan memutuskan untuk pindah kebangunan yang berwarna – warni menarik itu. Saya menyewa kamar dilantai 2, dengan harga 1.900.000 / tahun lengkap dengan fasilitas kamar mandi dalam, kasur, lemari dan 1 meja belajar.
Setelah mengangkut barang dari kost lama, seperti biasa saya yang kuliah di universitas berbeda dengan teman – teman yang lain punya jadwal libur yang juga berbeda, hingga akhirnya tinggallah saya sendiri di kost yang sebesar itu.
Dimalam pertama, saya merasakan sesuatu yang sedikit berbeda yang membuat saya tidak bisa tidur. Saat itu saya berpikir itu sebuah hal yang wajar ketika berada ditempat baru. Akan tetapi hingga seminggu kedepan saya masih saja sulit untuk tidur. Dan saya adalah tipe orang yang tidak bisa tidur jika ada suara televisi atau radio, tapi mau tidak mau pada saat itu saya merasa harus menyalakan radio untuk mengusir ketakutan yang ntah apa. Dan barulah beberapa minggu kemudian saya benar – benar bisa tidur dengan nyenyak.
Rasa ganjil yang ntah apa tidak berakhir di seminggu pertama. Di minggu – minggu selanjutnya mulai muncul keanehan – keanehan di kost. Mulai dari kamar mandi lantai 2 yang tengah malam terdengar seperti ada orang yang sedang mandi, padahal diantara kami tidak ada yang sedang berada di kamar mandi. Dan anehnya kegiatan kamar mandi yang tidak setiap malam itu tidak semua anak kost bisa mendengar. Hanya beberapa orang dan berganti – gantian. Kami tentu penasaran, hingga disuatu malam kami menyusun rencana. Siapa yang saat tengah malam mendengar suara dari kamar mandi segera mengsms teman di lantai 1 yang dari jendela kamarnya bisa dengan jelas melihat kamar mandi lantai 2. Kebetulan malam itu ada beberapa teman yang mendengar dan segera mengirim sms. Teman yang ditugaskan pun mulai mengintip dari balik jendela kamarnya. Dan hingga kegiatan gebyar gebyur terhenti, pintu kamar mandi tidak terbuka dan tidak ada satupun yang terlihat meninggalkan kamar mandi. Bisa dibayangkan betapa hebohnya pagi hari saat kami membahasnya.
Tidak hanya keanehan kamar mandi itu saja. Yang paling menarik adalah suara langkah kaki di tangga menuju lantai 3. Tangga ini tangga besi, mungkin karena sesuai fungsinya yaitu menuju tempat mencuci pakaian sekaligus menjemur. Dan kamar saya tepat berada di samping tangga ini.
Sama seperti kamar mandi, suara langkah kaki ini terdengar tidak setiap malam dan tidak semua orang bisa mendengarnya, berganti – gantian. Suara langkah kaki itu cukup terdengar karena tangga besi. Kami menamakan “3-4″, karena langkah kakinya terdengar teratur. Melangkah 3 kali, berhenti sejenak. Kemudian 4 kali, berhenti. Begitu seterusnya.
Jujur, saya sempat ketakutan ketika saya untuk pertama kalinya “mendapat giliran” mendengar. Suara langkah kaki itu terdengar sangat jelas dari kamarku. Jika sudah begitu, biasanya saya menyalakan radio dengan volume cukup keras, tapi tidak jarang pula saya mendengar dengan seksama langkah kaki tersebut. Dan saya tidak punya keberanian untuk mengintip siapa pemilik langkah kaki itu
.
Ada banyak sebenarnya keanehan – keanehan yang terjadi. Seperti cerita teman yang sedang mencuci piring di washtafel, kemudian seperti melihat bayangan dari kamar mandi lantai bawah. Suara guyuran air dan seperti sedang ada kegiatan mencuci di lantai 3. Suara “berdehem” dari atap rumah pemilik kost. Bau dupa yang terkadang menyeruak (kalau ini, ntah kenapa saya tetap meyakini bau itu berasal dari tetangga rumah depan yang sedang melakukan kegiatan – kegiatan kejawennya).
Saya sendiri sebenarnya sedikit sensitif untuk urusan “dunia lain” tersebut. Tidak jarang bisa merasakan keanehan – keanehan, yang meskipun pada akhirnya berusaha saya tepis sendiri bahwa itu hanyalah pikiran – pikiran burukku semata (semoga benar demikian adanya). Dan saya adalah orang yang selalu menghindar untuk menonton film horor, karena selalu akan terbayang di pikiran.
Saya pernah beberapa kali mendengar suara “berdehem” ketika melintas di lorong kamar teman, tapi tetap (berusaha) cuek selagi tidak menganggu dan tidak menampakkan diri. Dan yang paling tidak bisa dilupakan adalah ketika suatu malam ada yang mengetuk pintu kamarku. Malam itu semua anak kost sudah berada di kamarnya masing – masing. Jam juga sudah menunjukkan lewat tengah malam. Ketika saya sedang asyik sms-an di kasur dengan posisi kepala menghadap ke jendela, saat itulah terdengar sebuah ketukan halus. Saya hampir saja membukanya, tapi kemudian sadar tadi saya tidak melihat bayangan ataupun langkah kaki anak kost. Hanya terdengar tok-tok-tok kemudian hilang. Tidak ada tanda – tanda lain sesudahnya. Paginya saya bahkan sampai menginterogasi semua anak kost, bertanya apakah ada yang mengetuk kamarku semalam? Dan jawabannya tidak ada. Jadi siapakah itu? (-_-!!)
Keanehan – keanehan yang terjadi semakin diperkuat ketika mendengar cerita dari bapak kost. Beliau bercerita kalau rumah sebelum CH berdiri adalah rumah yang sepi dan terlihat cukup menyeramkan. Dan halaman parkir adalah tanah kosong yang dulu hanya di tumbuhi pepohonan – pepohonan.
Dan seiring dengan berjalannya waktu, dengan keriuhan kami anak – anak kost, keanehan – keanehan itu pun perlahan menghilang.Ditambah lagi kami yang muslim semua kala itu rutin mengadakan pengajian setiap bulan (yang hanya bertahan sekitar 2 tahun hehehe). Kalau kata bapak kost, mungkin waktu itu “dia atau mereka” merasa terusik, dari keadaan yang sepi berubah jadi ramai oleh anak – anak kost, yang pada akhirnya “dia atau mereka” pun membuat kegaduhan tersendiri.
Saya bahkan lupa kapan terakhir langkah 3-4 itu terdengar, demikian juga dengan suara dari kamar mandi dan hal – hal yang lainnya.
Tapi dibalik keanehan – keanehan itu, CH adalah kost cukup sempurna yang saya tinggali. Anak – anak kost yang sangat seru dan kompak, hingga pemilik kost yang baik yang tidak jarang menjadi tempat kami meminta nasi jika uang bulanan belum dikirim
.
Hal – hal yang sederhana itulah yang membuat saya dan teman – teman betah. Hampir semua menyelesaikan kuliahnya di rumah itu tanpa merasa ingin pindah kost. Saya sendiri 5 tahun di sana. Hanya berpindah kamar sekali di tahun 2005. Dan hingga kini saya selalu menganggap CH adalah rumah keduaku. Itulah sebabnya meskipun saya telah kembali ke Makassar, jika ke Jogja CH selalu menjadi tempatku berteduh. Rumah saudara hanyalah tempat mampir, sedang CH adalah tempat menginap utamaku
.
Bagaimanapun cerita “dunia lain” hanyalah bagian kecil dari riak kehidupan di CH dan sekarang hanya menjadi cerita kenangan anak – anak angkatan pertama CH.
Dan saya pun akan selalu merindukan tempat itu. Tempat dimana saya berkenalan, hidup seatap dengan belasan orang dari berbagai daerah dan berbagai karakter, salah satu tempat dimana saya banyak belajar bertoleransi dan menyayangi orang yang bukan keluarga, yang pada akhirnya saya menganggap mereka adalah bagian dari keluarga baru saya.
*saat menulis ini, saya dihinggapi rasa rindu yang teramat pada dunia CH*
Entry filed under: Uncategorized. Tags: .
10 Komentar Add your own
Tinggalkan Balasan
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed






1.
Nanie | 30 Mei 2011 pada 10:52 am
Tawwwaa betahnya.Saya blom pernah menemukan tempat kost yang bisa saya anggap sebagai rumah keduaku hehehhee
2.
kHie | 9 Juni 2011 pada 4:19 pm
hayooo kak na…semangat cari rumah kedua, atau rumah “beneran” mo hehe
3.
Alam | 30 Mei 2011 pada 11:42 am
wah.. kalau aku sama sekali belum pernah nemuin hal-hal ganjil.. sama sekali belum pernah
makanya kalau ada orang yang cerita gitu ya setengah gak percaya gitu.. hehe..
4.
kHie | 9 Juni 2011 pada 4:21 pm
hehe, tergantung keyakinan masing – masing *halaah*
5.
aRuL | 4 Juni 2011 pada 7:58 am
wuih mengerikan
kalo jaman kuliah pernah sy cuman sekali pindah dan bisa mementap 6 tahun di kamar kost itu, maklum bapak-ibu kostnya baik, jarang nagih kalo nelat, telatnya kadang sampai 1 tahun hohoho
6.
kHie | 9 Juni 2011 pada 4:23 pm
ibu-bapak kostku juga baek. ibu kost yang kami panggi “mbak” ini bisa diajak gaul
*jadi kangen ngekost
7.
Yanuar MM | 10 Juni 2011 pada 4:07 pm
serem
untung bacanya siang2
kosan saya dulu di tangerang nggak ada setannya sih, cuma ya..itu..ada anak kost disana yang ngondek dan terindikasi gay. serem bener kalo teleponan, sama mesra sama oom-oom. -.-”
rasanya saya lebih milih ngadepin yang aneh2 dari dunia lain ini deh.
8.
dinda aulia marhaeni (@bocahkijil) | 3 Februari 2012 pada 1:55 pm
bentar lagi, aku ninggalin Cita Haida -__-”
9. Saat sakit di Cita Haida « duNia keciL kHie | 3 Februari 2012 pada 11:33 pm
[...] lain tentang Cita Haida ~> Dunia lain di kostku Like this:SukaBe the first to like this [...]
10.
salma | 18 Februari 2012 pada 7:32 pm
Jika di perhatikan fotonya secara seksama, maka anda bisa melihat penampakan seseorang yg bermukena di sudut jendela!!!